Ingat dulu ketika SD kita familiar dengan kata roytasi? bumi berotasi pada porosnya 1 x 24 jam. Jadi rotasi membutuhkan poros. Poros yang menjadi pusat tumpuan berputar, tumpuan untuk bergerak. Begitu pula rumah yang sejatinya merupaka tempat 'pulang' tempang kembali.
Mengapa kita sebergantung itu dengan sebuah poros, apakah kita tidak bisa berputar bebas seperti gangsing? ah gangsing pun memiliki titik tumpu, jadi seperti apa hidup yang tanpa poros, hidup yang tidak memiliki titik tumpu?
Tanpa sadar kita ikut berputar bersama bumi, pagi-siang malam, belajar, berproses melewati waktu. Sadarkah hidup kita sendiri ikut berotasi? Melihat seseorang - membicarakannya, sadarkah bahwa orang lain mungkin saja akan membicarakan kita, seperti apa yang kita lakukan.
Saya tersadara ketika begitu membenci seseorang atau mencintai seseorang, perasaan tersebut ikut berotasi. Hilang dan kembali, kemudian bertambah dan berkurang. Mungkin ada sesuatu yang terlewatkan, tanpa sadar saya lupa, bahwa perasaan saya ikut berotasi. Begitu pun dengan kelakuan saya. Mungkin hari ini saya baik, tapi rotasi membuat saya lupa bahwa sejatinya saya baik.
Tersadar oleh sesuatu, bahwa semua hal yang berlebihan itu tidak baik. Perasaan ataupun pikiran. Mungkin seharusnya ketika perasaan berotasi, saya harusnya diam, menarik napas panjang, berhenti berpikir, memejamkan mata kemudian melupakan. Mungkin seharusnya begitu, karena saya lupa ketika perasaan berotasi ke arah lain, saya akan menyesali apa yang saya lakukan sebelumnya.
Karena hidup yang singkat akan terus berotasi. Mari menjernihkan kepala.
Tampilkan postingan dengan label MIND. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MIND. Tampilkan semua postingan
Kamis, 15 Mei 2014
Senin, 30 Januari 2012
Siklus
Seperti siklus hujan, semuanya akan kembali keasalnya #ide
Ditengah kebuntuan tiba-tiba jadi sedikit puitis, well..ya coba kalo diinget inget, siklus hujan itu seperti apa, air laut menguap menjadi awan, kemudian awan terbawa angin, dan turunlah hujan, air mengalir meresap ke tanah dan akhirnya akan kembali ke laut lagi.
Sama sih kayak hidup kita sebenernya, kita lahir dan nanti akan mati juga, kembali ke Sang Pencipta. Itu sebuah siklus yang pasti, klo kata temen saya sih "hidup itu rangkaian repetisi."
Ya saya juga setuju itu, hanya saja beberapa orang beruntung atau cukup pintar untuk menambahkan variasi dalam hidup mereka. Pada dasarnya setiap manusia itu memiliki siklus hidup yang sama Tidur- Bangun-Beribadah-Makan, sama kan. Ya sama, yang berbeda hanya bagaiman mereka mengisi jeda dalam hidup mereka. Layaknya 24 jam sehari. Bagi si manusia repetisi yang tidak kreatif, tentu saja waktu yang sangat panjang, tapi bagi mereka yang berhasil mengisi jeda dari repetisi yang mereka jalankan setiap hari nya seringkali merasa 24 jam itu waktu yang sangat singkat.
Pernah denger entah pepatah atau slogan atau apalah, 'Live your Life.' Saya baru paham maksudnya belakangan ini, kadang kita terjebak pada pengulangan-pengulangan tanpa berusaha untuk menjadikannya berbeda, dan jenis 'Live you Life' itu ajakan biar hidup kita itu gak standar-standar aja. Ada kalanya kita harus seperti hujan yang walaupun akan kembali ke asalnya, laut. Tapi hujan datang dengan berbagai cara, ada hujan deras, gerimis, hujan badai. Kurang lebih sama lah kayak kita.
Entahlah setiap orang punya banyak cara untuk menjadikan waktu yang kita miliki ini berharga, siklus hidup yang kita jalani ini cukup berarti. Semua tergantung pada seberapa kita ingin mewujudkan 'Live your Life' dalam hidup kita. :)
Minggu, 22 Januari 2012
Picturing Memories
Pacar keberapa? Mantan lo berapa?
Sering banget dulu pertanyaan ini muncul, klo sekarang gw sampe ditanyain begituan mungkin reaksi gw akan mengangkat satu alis gw, dan melambaikan tangan di depan si penanya "hey is that important?"
In this case mantan pacar, gw sih gak bangga punya banyak mantan, malah lately agak menyesal juga ngapain gw pacaran dengan segitu banyak orang. Well, tapi kata orang bijak, look at the bright side, atau kalo kata duta galau mbak Adele di lagunya yang Now and Then "Every now and then my memories ache, With the empty ideas of the ones we'd made, But as time goes on and my age gets older, I love the ones I know, they're enough to picture the rest"
Mari berpositif thinking, at least gw yang notabene sering patah hati berarti punya pengalaman dalam menghadapai kepatah-hatian. Walaupun beda ya derajat patah hati setiap kali putus, but well harus percaya, that i can handle those sh*t feeling when i broke up. No hurt feeling.
Harusnya memang masalah mantan itu bukan jadi masalah yang selalu diributkan, mantan itu kan tidak merujuk ke satu orang secara spesifik, at least buat gw ya, yang udah ya udah aja. Klo ada suatu rentang waktu gw patah hati dan jadi galau ya wajar kan, namanya juga we trought bad time. But setelahnya everything gonna be okay. Mungkin yang nge-hits sekarang adalah 'move on' tentu saja setiap orang akan move on, secara sadar atau tidak. Karena manusia itu hidup move forward, dan move on itu berasal dari niat.
So for me, mantan atau masa lalu, is where i learn, how to love, to get hurt, to fall, to fail and to wake up. Belajar tentang that nothing last, or we should try to know and fight for it. Dan saat ini gw sih berjalan ke depan, sendiri, dan tentu saja yakin klo bisa, masa lalu jadi acuan gw untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. well, let's move forward, reach our dream, left the memories behind, but dont forget to look back instead to know what things ever be mistakes.
Selasa, 17 Januari 2012
Tergelitik: Galau Nite
Berhubung masih terbawa penelitian tentang Metro TV, jadi sering nonton Metro TV, sebenernya acaranya emang bagus sih, dan saya juga lumayan jadi loyal audiencenya Metro TV, walaupun yah ada kepentingan penelitian. Nah, kemaren awal tahun lah, sering banget liat promo program judulnya Galau Nite, well baiklah mungkin ini salah satu strategi Metro TV untuk meng-grab audience muda. Setelah rebranding memang salah satu strateginya adalah memperluas segmentasi, yang semula target audience Metro TV adalah mereka yang berusia 20+, tapi setelah rebranding segmentasi Metro TV diperluas menjadi 17+.
Sabtu, jam setengah sebelas akhirnya saya mantengin Metro TV, openingnya memang anak muda sekali, bintang tamunya juga anak muda sekali. Ekspektasi saya sih tinggi banget ke program ini, ternyata oh ternyata, untuk program di TV sekelas Metro TV, jelas program ini gak masuk banget. Dari segmentasi, mungkin umur iya tapi sama sekali gak mencerdaskan. Rasanya waktu liat program ini dejavu sama acara stasiun TV sebelah ya, yang notabene begitu-begitu aja dan yah gak ada isinya.
Episode pertama program ini judulnya 'Galaupedia' bintang tamunya yang saya kenal sih cuma Raditya Dika, Hostnya siapa ya, lupa. Yang pasti waktu nonton galau nite, rasanya pengen bakar skripsi saya *aawwrrr*.
Tapi IMHO ya, klo memang Metro TV mau mempertahankan program ini harus melakukan improvement dimana-mana, terutama soal konten. Buat saya gak masalah sih klo mau bahas topik yang 'kekinian' semacam galau, atau apalah, tapi dikemas sedemikian rupa biar jadi menarik dan cukup 'berisi' bukan hanya sekedar fun dan ngalor ngidul gak jelas. Lucu, boleh. Menghibur, juga boleh. Tapi mungkin harus tetap di track yang ada, dengan mengusung 'Knowledge to Elevate.'
Program yang menarik bukan cuma melulu soal rating, dan juga bukan cuma karena topik yang dibahas sedang jadi trading topic, program-program seperti itu hanya akan bertahan seumur jagung. Coba liat Kick Andy, Just Alvin, sudah bertahun-tahun masih bertahan, dan semakin menarik untuk ditonton. Metro TV boleh lah 'penggalauan masal' tapi konten programnya juga jangan ikutan galau donk.
*ini cuma opini lho*
Selasa, 20 Desember 2011
Hujan
Hujan yang dikutuk banyak orang, hujan yang dicintai banyak orang, hujan tetesan air dari langit. Hujan itu sebuah fenomena alam yang memang wajar terjadinya, penguapan, dan kemudian jadilah titik hujan. Beberapa hari ini saya sering berada di bawah hujan, benci kah saya pada hujan? Tidak. Saya tetap mengganggap hujan itu berkah, mungkin memang bukan buat saya pada saat saya berada di bawahnya, tapi bagi orang lain mungkin iya. Bagi pak tani yang mengharapkan sawahnya dialiri air hujan, bagi para ojek payung, bagi para penjual jas hujan, dan mungkin para penjual wedang ronde. :)
Mungkin ada saatnya saya juga merasa bahwa hujan itu bencana buat saya, saat saya mau pergi dan terhalang hujan. Tapi saat hujan banyak orang bahagia, dan walaupun agak cheesy tapi memang setelah hujan lalu muncul pelangi.
Orang cina pun beranggapan bahwa hujan di hari imlek membawa rezeki. Dan entahlah setelah hujan, sambil menyesap coklat panas kesukaan saya, dengan perasaan mellow, saya melihat pelangi di pikiran saya. Bahwa hujan itu akan berakhir, dan setiap selesai hujan pasti banyak hal indah yang terjadi, selain pelangi. Panen, dan coba perhatiin sekitar, saat musim hujan sekitar kita terasa lebih hijau.
Dan walaupun saat saya berada di bawah hujan, saya tetap bersyukur akan datangnya hujan. Bersyukur saya bisa merasakan kehujanan, bersyukur bahwa saat setelah hujan akan ada orang lain yang tersenyum bahagia. Bahkan saat hujan adalah waktu dimana tanpa sadar kita sering sangat bersyukur 'Untung aja udah di rumah.' :)
Selasa, 29 November 2011
Happiness
Tadi siang sambil menemani adek-adek (cie,,berasa tua banget) musical show, saya sempat mengobrol dengan ibu dosen. Tentang quotes of the day, dan beliau cerita bahwa hari ini beliau memberikan tugas bikin short film based on quote. wow,, it's great. Setidaknya ada moral values dari short film yang akan jadi nanti. Cant wait to see.
Dan saya jadi inget sebuah quote tentang kebahagiaan.
Happiness is not something ready made. It comes from your own actions. Dalai Lama*
Belakangan ini keadaan saya memang sedang kurang baik, bisa dibilang sedang dalam masa transisi. Banyak orang bertanya kenapa? koq bisa? emang harus kayak gitu. Well, sebenernya saya juga gak tahu kenapa bisa begini juga, yang pasti ada alasan kuat dari saya yang bisa saya jelaskan. Ini bukan masalah bahagia atau tidak bahagia. Sejujurnya bersama dia itu bikin saya bahagia lho, bahkan sangat bahagia klo boleh dibilang sih. Tapi entahlah, saat saya sendiri seperti sekarang itu rasanya lebih lega, bukan lebih bahagia lho.
Bukan karena merasa terkekang, tapi rasanya bisa bernapas dengan lebih lapang. Entahlah, mungkin memang pada dasarnya kita tidak ditakdirkan untuk bersama, atau hanya saya dan dia saja yang tidak bisa memaintain hubungan kita berdua, atau kita lupa bahwa kita berdua itu pernah bahagia. Bisa juga sih, kita lupa bagaimana menciptakan kebahagiaan dalam hubungan kita.
Banyak kemungkinan yang saya sendiri tidak bisa menjawab, mungkin yang sedang dalam keheningan sana juga sedang mencoba menjawab. Bila tidak, mungkin hanya waktu yang bisa memberikan jawaban.
Saya sendiri akan membuat kebahagiaan saya sendiri, seperti mewujudkan mimpi, dan berlari.
Senin, 07 November 2011
The 'X' Factor
Suatu hubungan, dalam hal ini relationship, terutama dengan pasangan ya. Klo relationship sama Tuhan itu kan hal yang sangat personal, cuma gw dan Allah yang tahu, relationship kita kayak apa. Ya Relationship sama Tuhan itu gak bisa ditebak, yang baik belum tentu bener-bener baik, yang jahat juga belum tentu bener-bener jahat, makanya kita gak bisa judge orang itu dari cara dia berpakaian, cara bicara, atau hal-hal yang berbau manusia lah, kan cuma Tuhan yang bisa menilai.
Baiklah mari menulis tentang hal yang bisa kita tahu aja. seperti relationship dengan sesama manusia. Katakanlah yang mau gw bahas ini dengan pasangan, ya let's say pacar/suami/istri/selingkuhan, whatever you name it. kadang gw suka mikir, klo misalnya ngeliat sepasang kakek nenek yang mesra, atau sepupu gw yang nikah muda, dan udah punya anak tapi masih suka kejar-kejaran kayak orang pacaran. Hmmm...apa yang bisa bikin mereka gitu ya. Ada banyak pasangan yang menikah puluhan tahun, terus cerai. Atau orang yang pacaran bertahun-tahun terus putus. Tapi ada juga yang baru kenal sebulan terus nikah dan pernikahannya langgeng sampe tua.
Hubungan antar dua manusia berbeda jenis ini memang rumit. Walaupun di agama gw disebutkan bahwa jodoh, rejeki dan mati itu adalah hal yang pasti, yang sudah ada ketetapannya. Klo putus sering di bilang "bukan jodoh," klo cerai juga gitu "mungkin jodohnya cuma sampe situ." Tapi gw pikir di luar itu ada sesuatu yang bikin suatu hubungan itu berhasil. Kayak kunci, kalo pas itu ada bunyi 'klik' dan pintu terbuka. tapi selain cocok mungkin ada yang lain, apa ya perasaan nyaman, perasaan terlindungi, perasaan dicintai. Banyak hal yang bisa bikin hubungan itu berjalan. Klo gw bilang sih "X" faktor. Bahasa kerennya mungkin kekurangan dia yang jadi kelebihannya.
gak tau deh bener atau gak. Jadi keinget obrolan gw dengan seseorang dengan kata 'terlalu baik' dimana gw mendeskripsikan orang itu terlalu baik, tapi sebagai manusia bukan sebagai cowok. Dan dia bilang dulu gw juga ngomong gitu...ahahaha..iya dulu kan itu jurus putus 'terlalu baik' alasan untuk bersama orang lain. But actually saat ini i seriously did, think that he's to good so dont suit me.
yah well, mari kita mencari 'X' factor dari kebersamaan dengan seseorang yang of course, lead us into something beautiful :)
Kamis, 27 Oktober 2011
Media dan Politik
Yuk mari sekali-kali kita menulis hal-hal yang mencerdaskan, seperti tagline tempat saya penelitian "Knowledge to Elevate" mari kita menulis sesuatu yang mengelevate pengetahuan orang yang membaca blog saya. Walaupun isi nya agak sok tahu, yah well sebagai anak komunikasi yang mata kuliahnya ada politiknya, saya cukup mengamati perkembangan politik negeri ini, terutama tentang parpol dan media, karena ini salah satu alasan kenapa Bab I di skripsi saya harus di rombak habis-habisan *sigh* *lap airmata*.
Baiklah mari kita flash back dari pemilihan ketua umum golkar. Dua calon kuat untuk ketua umum Golkar adalah Aburizal bakrie yang juga bosnya bakrie & brother, pemilik TVOne, ANTV, dan Vivanes.com. Saingannya adalah Surya Paloh yang juga bosanya Media Group, yang membawahi Media Indonesia dan Metro TV. Keduanya sama-sama tangguh dan sudah berkecimpung di politik puluhan tahun. Dan kekalahan Surya Paloh menduduki kursi panas ketua umum Golkar gugur setelah dikalahkan oleh ical.
Dan akhirnya bersama Sri Sultan Hamengkubuwono X mendirikan Ormas (Organisasi Masyarakat) Nasional Demokrat atau NasDem. Waktu saya magang di tivinya babeh (sebutan buat bos besar), ada client yang protes karena spotnya kepotong sama pidatonya babeh di acara nya NasDem. Wow, NasDem ini powefull sekali ya, sampai jadi headline news segala.
Setelah satu tahun kemudian, setelah menemukan bahwa masalah skripsi saya itu cetek bgd. Dan menemukan permasalahan yang lebih menarik yang ada hubungannya sama Ormasnya babeh yang udah jadi parpol. Diliat-liat logo rebrandinya mirip, visi misinya mirip, intinya perubahan. Klo Parpolnya restorasi Indonesia kalo medianya "knowledge to elevate". Dan saya pun bertanya pada beberapa orang karyawan kawaban mereka sih wajar saja klo pemilik memanfaatkan kepemilikannya untuk kepentingan partainya.
Kemudian bertanya pada ibu PR dan mendapat jawaban yang hampir senada. Menurut beliau tidak dapat dihindari adanya image "tivi kampanye" karena yang punya kan orang politik, orang partai. Coba di bayngkan klo Pak Hary Tanoe gabung akan jadi seperti apa partai ini. Dan waktu saya nulis blog ini muncul deh tuh iklan Nasdem di RCTI.
Kesimpulannya seperti kata Pamela J. Shoemaker di bukunya Mediating the Message (berteori sedikit) isi media itu dipengaruhi oleh orang-orang yang ada di dalam media, diantaranya si pemilik media.
Saat ini media massa juga dimanfaatkan sebagai salah satu alat komunikasi politik, karena cakupannya yang luas dan apalgi untuk para pemilik media, cost less. Pasti sangat murah, liputan, iklan yang berjibun dll yang berhubungan dengan partai.
Seperti pada masa pemilu 2009 lalu, dimana semua calon presiden mengkampanyekan diri melalui media, yang tentu saja menghabiskan uang yang jumlahnya tidak sedikit. Mungkin memang sah-sah saja jika pemilik media memanfaatkan medianya, dari wawancara yang saya lakukan, pihak redaksi juga berupaya agar berita yang berkaitan dengan partai juga tetap memiliki nilai berita.
Mungkin saja benar. Tapi jika para bos besar media juag bergabung dalam partai, akan seperti apa persaingan politik nantinya di pemilu tahun 2014. Semoga saja kita sebagai penonton tidak menjadi korban atas kampanye politik yang ada di media massa.
Rabu, 19 Oktober 2011
Fashionable People
I love being fashionable but i prefer being fit.
Saya suka liat orang berseloweran dengan mutakhir, dengan stilleto 15 cm mereka. Terutama dengan gaya mereka yang fashionable yet elegant. Love it very much.
Di Jakarta pemandangan paha mulu dengan super faboapa aulous dress, atau fancy shoes udah biasa. Everyone wear it, and usually look untouchable dan expensive.
Tapai apa yang terjadi kalo terlihat pengen fashionable tapi salah tepat, atau salah kostum.
saya juga suka sih, pake baju suatu merek tertentu, yang jatuhnya bagus di badan saya. Atau sepatu cantik keluaran vinci yang bikin kaki saya not that bad. Tapi sebenernya saya lebih suka terlihat pantas. the clothes i wear suit me perfectly. Sederhana dan cantik. Bukannya jadi fashion police sih. Tapi tadi waktu saya lagi jalan-jalan di PIM melihat mbak-mbak canti dengan super sexy black dress, with black stocking and a beatiful red pumps. Pastinya mbaknya keren banget lah yah, but not. Secara gak sengaja saya ngeliat stockingnya sobek mulai dari ujung dressnya sampe atas lutut di bagian samping stockingnya. Oh My God (agak lebay), mbaknya yang tadinya keliatan very chic jadi kehilangan nilainya. Masa iya dia gak sadar klo stockingnya robek, it's so obvious.
Tapi yah biarlah, everyone has their own fashion statement. Buat saya pribadi fashion statement saya adalah pink, ungu dan hijau tosca. No matter what, yang pasti modelnya fit in me. Dan well dress di Jakarta, Bandung dan Solo itu berbeda menurut pengalaman saya sih. Klo di Solo kaosan dan pake jeans serta sendal jepit udah di bilang well dress, klo di Jakarta sepertinya lain. Kayak tadi waktu mau berangkat dan masih pake sendal bali dengan herannya tante saya bilang, "Kamu mau pake sendal itu?"
well, mungkin yang sulit adalah selain look fit, but suitable. Seperti well dress yang di Jakarta seperti apa, misalnya kaos, jins, beberapa aksesoris, jilbab ribet, dan good shoes entah itu sandal atau sepatu but look good.
Mungkin lebih melihat dimana, kapan, dan dengan siapa kita pergi. Jadi gak saltum, atau berlebihan.
Saya suka liat orang berseloweran dengan mutakhir, dengan stilleto 15 cm mereka. Terutama dengan gaya mereka yang fashionable yet elegant. Love it very much.
Di Jakarta pemandangan paha mulu dengan super faboapa aulous dress, atau fancy shoes udah biasa. Everyone wear it, and usually look untouchable dan expensive.
Tapai apa yang terjadi kalo terlihat pengen fashionable tapi salah tepat, atau salah kostum.
saya juga suka sih, pake baju suatu merek tertentu, yang jatuhnya bagus di badan saya. Atau sepatu cantik keluaran vinci yang bikin kaki saya not that bad. Tapi sebenernya saya lebih suka terlihat pantas. the clothes i wear suit me perfectly. Sederhana dan cantik. Bukannya jadi fashion police sih. Tapi tadi waktu saya lagi jalan-jalan di PIM melihat mbak-mbak canti dengan super sexy black dress, with black stocking and a beatiful red pumps. Pastinya mbaknya keren banget lah yah, but not. Secara gak sengaja saya ngeliat stockingnya sobek mulai dari ujung dressnya sampe atas lutut di bagian samping stockingnya. Oh My God (agak lebay), mbaknya yang tadinya keliatan very chic jadi kehilangan nilainya. Masa iya dia gak sadar klo stockingnya robek, it's so obvious.
Tapi yah biarlah, everyone has their own fashion statement. Buat saya pribadi fashion statement saya adalah pink, ungu dan hijau tosca. No matter what, yang pasti modelnya fit in me. Dan well dress di Jakarta, Bandung dan Solo itu berbeda menurut pengalaman saya sih. Klo di Solo kaosan dan pake jeans serta sendal jepit udah di bilang well dress, klo di Jakarta sepertinya lain. Kayak tadi waktu mau berangkat dan masih pake sendal bali dengan herannya tante saya bilang, "Kamu mau pake sendal itu?"
well, mungkin yang sulit adalah selain look fit, but suitable. Seperti well dress yang di Jakarta seperti apa, misalnya kaos, jins, beberapa aksesoris, jilbab ribet, dan good shoes entah itu sandal atau sepatu but look good.
Mungkin lebih melihat dimana, kapan, dan dengan siapa kita pergi. Jadi gak saltum, atau berlebihan.
Rabu, 28 September 2011
Somewhere Only We Know
Oh, simple thing, where have you gone?
I'm getting old and I need something to rely on
I'm getting old and I need something to rely on
Bener banget deh lagu ini, Simple thing, where have you gone? Kadang saya sendiri sangat merindukan hal-hal simple disamping segudang hal-hal besar yang saya inginkan. Mungkin ada benernya kata om John legend "we just ordinary people, maybe we just take it slow" ya..ya..ya...mungkin ada kalanya kita kurang bersyukur terhadap apa yang kita punya. Saya sendiri secara pribadi bukan orang yang cukup sabar. Mungkin juga karena saya orang yang cepat berubah, ingin cepat berpacu dengan waktu.
Tapi lupa, bahwa ada sebuah tempat yang hanya saya yang tahu. Tempat yang isinya kebahagian-kebahagian sederhana. Seperti sms "selamat pagi" atau "selamat tidur" yang seiring berjalannya waktu sering saya abaikan. Atau mengobrol panjang lebar tentang hari-hari kita, atau sekedar omong kosong tanpa juntrungan. Terfokus pada hal yang besar, melupakan bahwa hal-hal kecil itu bagaikan paku-paku pada pondasi rumah, yang tanpanya tidak akan kokoh. Seperti serabut kecil pada akar pohon yang besar.
Seperti anak bayi yang baru belajar jalan, akan tertatih-tatih dan jatuh baru kemudian saat kaki-kaki kecilnya sudah mulai kuat bisa berjalan lagi. banyak proses kecil yang harusnya tidak hilang, yang harusnya tetap ada. Hanya terlupa, hanya terabaikan. Semuanya butuh proses, kalo kata Rinso "gak ada noda, gak belajar" semua orang pasti pernah salah, tapi dari situ kita tahu bahwa semuanya butuh waktu, butuh kesalahan, butuh kegagalan, karena we just ordinary people yang seharunya tidak melupakan simple thing, karena itu yang akan mengantar kita ke somewhere only we know. Kebahagiaan.
Jumat, 23 September 2011
My Dream Home
Home seperti yang ada di lagunya Michael Buble, Home yang membuat saya ingin pulang. My Dream Home.
Salah seorang sahabat saya pernah menulis tentang rumah mewah dan rumah sederhana, rumah impian saya adalah rumah dengan bentuk sederhana, yang nyaman untuk ditinggali. Rumah yang dengan sederhana mebuat saya betah. Rumah dengan jendela besar agar cahaya matahari bisa masuk, rumah dengan ventilasi udara yang baik, sehingga saya bisa bernafas dengan leluasa. Rumah yang strategis hingga saya bisa menjangkau orang-orang yang saya sayangi, teman-teman dan sahabat-sahabat saya. Rumah dimana bisa saya jadikan tempat menangis, mengeluh, bercanda, tertawa, bahagia dan berusaha.
Yang penting adalah rumah dengan fondasi yang kuat, rumah yang tahan badai dan gempa. Rumah yang tidak runtuh walaupun hujan badai datang. Rumah yang walaupun terdapat banyak retak, dan catnya mulai kusam bisa saya perbaiki atau cat ulang untuk membuatnya kembali nyaman.
Tidak masalah rumah itu mewah atau sederhana. Tapi itu rumah saya, rumah yang saya rindukan. Rumah yang melindungi saya dari dunia yang jahat, rumah tempat saya belajar tentang mencintai, dicintai, dan hidup. Rumah yang pintunya selalu terbuka untuk hal baik, dan menyaring hal buruk. Dan yang penting rumah yang bisa saya tinggali selamanya, dan itu rumah yang merasa saya miliki.
***
Kamis, 22 September 2011
Not Responding
Beberapa hari yang lalu waktu gw lagi semangat*ehem* ngedit Bab I gw, sambil online, chatting dan lain-lain, tiba-tiba laptop gw diam. Maksudnya trus dia gak ngapa2in lagi, gw klik sana sini gak bisa,gw coba ketik-ketik juga gak bisa. Dan mampus gw, masalahnya editan gw blum di save. Dan gw pun mulai merenung, ah ya gw coba pencet ctrl+Alt+Del dan muncullah kursor loading, *joget2*. Akhirnya gw diemin, 15 menit kemudian laptop gw masih gitu juga, gw diemin lagi, tetep diem. Tiba-tiba ada notification kalo Task Managernya gak bisa di buka. Rasanya mau pingsan deh, masalahnya itu versi baru Bab I gw dan gak ada masternya. Ya Allah. Akhirnya dengan berat hati gw restart lah laptop gw, jreng,,jreng,,bisa kebuka mode recovery, dan tapi hari ini mau gw edit lagi gak bisa *pingsan*.
Mungkin kurang lebih hidup itu seperti itu ya, saat ada hal yang tidak berjalan maka sebaiknya kita mengambil tindakan yang perlu. Contoh waktu hujan dan tidak membawa payung pilihan saya adalah hujan-hujanan atau menunggu hujan. Mungkin waktu laptop saya hang banyak pilihan yang bisa saya lakukan juga banyak mulai dari sabar nunggu loading dan gak maksa klik sana sini, ditinggal sebentar mungkin dia lagi mikir karena terlalu banyak command yang diterima, pencet ctrl+alt+del (klo bisa) dan mengklik end task, atau klo males melakukan semua itu tinggal restart aja tuh laptop. Hidup kita ini memang terdiri dari sekumpulan pilihan yang kompleks, dimana setiap pilihan kita itu punya konsekuensi yang berbeda. Mungkin kalo saya pilih restart saya kehilangan semua data yang saya ketik barusan, tapi masih dapet recovery version, klo yang lain mungkin hilang begitu saja.
Manusia itu makhluk yang kompleks, tidak seperti komputer yang punya pilihan yang lebih terbatas dalam menyelesaikan masalah. Saat situasi "Not Responding" sudah ada beberapa pilihan yang jelas tapi hisup itutu lebih terbatas, di suatu kondisi yang sama ada banyak yang bisa saya pilih. Seperti saat orang tua saya mengalami masa "Not Responding " mereka, dimana ibu saya memilih untuk tidak berbicara lagi dengan ayah saya, artinya harus ada pilihan, antara "restart" atau "shut down".
Bagi saya saat saya menghadapi situasi "not responding" dan saya sudah berusaha untuk me "repair" dan tetap juga tidak ada hasilnya. Maka saya akan memilih untuk "shut down". Karena menurut saya, saat me- "repair" itu sangat sulit. Manusia itu kan diberikan banyak kelebihan, salah satu nya kemampuan untuk berkomunikasi, saat komunikasi sangat dibutuhkan dan terjadi "not responding" itu rasanya semua ilmu komunikasi yang saya punya itu percuma, karena tidak ada feedback, rasanya kayak ngomong sama tembok. Mungkin terlalu banyak noise, tapi buat saya saat ini, mungkin laptop saya agak hang dan lebih baik saya instal ulang saja.
Selasa, 20 September 2011
In Her Shoes
Manusia itu adalah mahluk sosial yang membutuhkan orang lain, klo di kuliah saya ada istilah comunicare ergo sum, saya berkomunikasi maka saya ada. Manusia itu mahluk yang unik, punya jutaan cara untuk berkomunikasi, makanya kita kaya akan bahasa. Well, cukup buat intermezo.
Terkadang kita selalu memposisikan diri kita dalam sudut pandang diri kita, bahkan terhadap masalah kita dengan orang lain, atau masalah orang lain. Sebagai contoh, klo kita diserempet dijalan otomatis kita bakalan misuh-misuh gaka karuan, bawa-bawa kebun binatang, dan sumpah serapah, karena kita memposisikan diri kita sebagai korban, sebagai orang yang dirugikan. Mind set kita adalah sesuatu yang menimpa kita, terutama yang tidak kita inginkan adalah negatif. Mungkin sekali-kali kita mencoba membayangkan ada di posisi si penyerempet, mungkin dia gak liat ada kita, dia buru-buru karena ada yang sakit, atau apalah kepentingan yang dia punya. Dengan begitu kita setidaknya bisa memahami orang lain dengan lebih baik.
Ada kalanya manusia itu punya pikiran yang nyeleneh. Dari jutaan manusia yang ada di bumi mungkin 1:100.000 yang punya pemikiran yang sama. Penting juga buat kita untuk memposisikan diri kita dari sudut pandang orang lain, atau istilahnya "Put yourself in her shoes" rasakan apa dia rasakan, pikirkan apa yang mungkin dia pikirkan, mungkin itu awal mula adanya tenggang rasa (ini kenapa kayak PPKn).
Actually we need this, to figure out what other see,hear,feel,touch. Because world not revolves on us rite. Menjadi dewasa adalah menjadi orang yang bisa mengerti orang lain, bukan hanya aku..aku..aku..dan aku. Tapi aku dan mereka, aku jika jadi mereka.
Senin, 12 September 2011
Sesuatu Banget
judulnya gak banget ya, tapi sebodo amat deh, kan itu kata-kata yang lagi booming gilak. well, officially malam ini saya tidak galau, yes for sure. Thanks to kedua tetua yang menemani saya malam ini. Ternyata saya baru sadar ya, belakangan ini saya selalu bersama orang-orang yang sama, berbicara tentang hal-hal yang sama, melakukan hal-hal yang sama. tidak bosan sih, saya sih sebenernya juga seneng-seneng aja. Tapi,tapi..ternyata banyak hal yang berhenti juga, seperti yah biasanya kalo bersama orang-orang yang berbeda at least memperluas dan mengembangkan daya pikir saya. bertukar banyak hal. ini yang saya kangenin sebenernya. Suasana yang berbeda dan orang-orang yang berbeda.
Tapi bener deh malem ini sesuatu banget. mungkin harus lebih sering dilakukan ya, biar saya gak berhenti belajar juga, dan gak statis juga. yang pasti sih malam ini semoga kerjaan beres tanpa galau.ayee.
Tapi bener deh malem ini sesuatu banget. mungkin harus lebih sering dilakukan ya, biar saya gak berhenti belajar juga, dan gak statis juga. yang pasti sih malam ini semoga kerjaan beres tanpa galau.ayee.
Selasa, 19 Oktober 2010
Grown UP
Pada umur seusia saya (21) atau memasuki umur orang akan merasa dirinya (sudah) dewasa...
Bisa menilai mana yang benar atau yang salah.menurut kamus dewasa atau dalam bahasa jawa GROWN UP
1.having reached the age of maturity.
2.characteristic of or suitable for adults: grown-up behavior; grown-up fiction.
so, 17 tahun, waktu kita bikin KTP juga bisa disebut dewasa kan?
hhhmm..but di definisi ke dua jadi bikin pertanyaan baru,,grown up behavior itu seperti apa?
banyak orang (termasuk saya)inging dinilai dewasa oleh orang sekitar, terutama orang tua.
but we just never know what their definition about grown up from their angle...
but from my angle...
grown up adalah saat saya bisa menilai kelebihan dan kekurangan saya dengan bijak, dan bisa menerima kelebihan dan kekurangan orang lain...
bisa membuka pikiran untuk perubahan, bersyukur terhadap apa yang dimiliki...
then bisa berlaku bijak...
belum bisa bilang klo saya sendiri sudah dewasa,,hanya mencoba untukmengarah ke sana...
semoga saya bisa berubah sedikit demi sedikit...
Langganan:
Postingan (Atom)