Belakangan ini sering pulang paling akhir di kantor, selain sesiangan riweh meeting yang bikin kerjaan terbengkalai, entah kenapa gw suka menyibukkan diri di malam hari jadi pulang gw langsung tidur. Dan mungkin ini bagian dari berlari, lari dari masalah yang harusnya udah gak ganggu gw lagi, yaelah umur 23 tahun masih ngeribetin soal pacaran, jadi banyak kerjaan dan traveling belakangan ini buat gw adalah bless in disguise 'cih' but whatever i enjoy it anyway. So just come to me trouble, im ready
Rabu, 27 Maret 2013
Selasa, 26 Februari 2013
Another Chapter Of Life
2007
Life passed by, sejak pertama jadi mahasiswa baru yang nyasar di kota orang, yang bikin kehebohan dengan celana kuning saat ospek, dan dengan mudahnya di suruh mesen nasi rawon pake kata "segawon." Menikmati kehidupan kampus dengan motto hidup 'Kuliah tidak boleh mengalahkan UKM.'
2012
Setelah berbulan-bulan perjuangan, bermalam-malam tanpa mata terpejam, akhirnya kumpulan tulisan yang entah apa itu dijilid menjadi 250 lembar halaman, dan akhirnya berkebaya dan bertoga tanpa pasangan (eh). Diterima kerja di sebuah stasiun TV swasta bergengsi, memulai dari bawah, belajar...membuat kesalahan...tetap belajar.
2013
Its almost a year. 1 Maret, tepat satu tahun perayaan selesainya perjalanan panjang sebagai mahasiswa urakan, dengan nilai yang lumayan memuaskan, setidaknya masih masuk kategori batas minimal penerimaan karyawan baru. 5 Maret tepat setahun menapaki sebagai pekerja TV. Banyak kejadian yang terjadi, banyak merubah gw, entahlah menjandi orang yang berbeda, mungkin dalam artian yang baik. Momen-momen yang mungkin tidak terulang lagi. Gw belajar bagaimana bekerja dari bawah, bagaimana bekerja tanpa lelah, kemudian belajar bekerja santai, tanpa deadline di tempat impian sejak kuliah. Sekarang menuju babak hidup baru, sebagai pekerja dokumenter dengan tanggung jawab yang besar, dan visi misi semi idealis, mungkin bukan obsesi tapi bagian dari jalan mewujudkan mimpi. Suatu hari nanti. Di meja kerja, di sebuah kantor agency iklan prestisius di jakarta, di dua hari terakhir gw. Bismillah...untuk babak baru, untuk cerita baru yang lebih seru, yang seharusnya bikin gw lebih baik. Bismillah...untuk keputusan yang gak bakal gw sesali. Bismillah untuk amanat yang dikasih ke gw. So, lets move to the next chapter.
Life passed by, sejak pertama jadi mahasiswa baru yang nyasar di kota orang, yang bikin kehebohan dengan celana kuning saat ospek, dan dengan mudahnya di suruh mesen nasi rawon pake kata "segawon." Menikmati kehidupan kampus dengan motto hidup 'Kuliah tidak boleh mengalahkan UKM.'
2012
Setelah berbulan-bulan perjuangan, bermalam-malam tanpa mata terpejam, akhirnya kumpulan tulisan yang entah apa itu dijilid menjadi 250 lembar halaman, dan akhirnya berkebaya dan bertoga tanpa pasangan (eh). Diterima kerja di sebuah stasiun TV swasta bergengsi, memulai dari bawah, belajar...membuat kesalahan...tetap belajar.
2013
Its almost a year. 1 Maret, tepat satu tahun perayaan selesainya perjalanan panjang sebagai mahasiswa urakan, dengan nilai yang lumayan memuaskan, setidaknya masih masuk kategori batas minimal penerimaan karyawan baru. 5 Maret tepat setahun menapaki sebagai pekerja TV. Banyak kejadian yang terjadi, banyak merubah gw, entahlah menjandi orang yang berbeda, mungkin dalam artian yang baik. Momen-momen yang mungkin tidak terulang lagi. Gw belajar bagaimana bekerja dari bawah, bagaimana bekerja tanpa lelah, kemudian belajar bekerja santai, tanpa deadline di tempat impian sejak kuliah. Sekarang menuju babak hidup baru, sebagai pekerja dokumenter dengan tanggung jawab yang besar, dan visi misi semi idealis, mungkin bukan obsesi tapi bagian dari jalan mewujudkan mimpi. Suatu hari nanti. Di meja kerja, di sebuah kantor agency iklan prestisius di jakarta, di dua hari terakhir gw. Bismillah...untuk babak baru, untuk cerita baru yang lebih seru, yang seharusnya bikin gw lebih baik. Bismillah...untuk keputusan yang gak bakal gw sesali. Bismillah untuk amanat yang dikasih ke gw. So, lets move to the next chapter.
Minggu, 24 Februari 2013
Selasa, 22 Januari 2013
A Glass of Beer and an Untold Story
Say Cheers!!!
Let's say cheers!!!!
Cheers for new beginning....ahahahay...
bukan..bukan..bukannya gw mau ngajakin ngebir, i stopped drink beer since well, last year.
Ini bukan tentang beer sih, tapi cerita..cerita seru di kala nge beer atau menemani nge beer.
Entah kenapa meurut pengamatan gue, orang-orang di jakarta selalu dalam keadaan tegang dan tertekan (kebanyakan sih, mungkin gak semua). Seorang teman gw bilang, "Jakarta itu bergerak cepat, waktu gw duduk diam rasanya semua orang bergerak seirama." Ketika itu khayalan gw sih agak melayang ke New York atau Tokyo kayak yang di film-film they move in a same rhyme. Yah mungkin disini gak serapi itu but yes, people moving so fast (termasuk gw juga mungkin, tegang dan tertekan).
Sering kali gw menemani teman, atau client ngebir, yah bahasa pergaulannya hang out. People turn relax while drinking beer, dan ketika itu banyak cerita yang mengalir begitu saja. i swear drnk beer cant make you drank, its only make you more relax.
Dan mulailah gw menjadi pendengar....
"Gw dulu pernah dipenjara....."
"Aku dulu pacaran sama dia 8 tahun, dan dia selingkuh..."
"Gw pengen punya cewek yang sayang sama adik dan nyokap gw, karena gw gak bisa nunjukin perasaan kayak gitu..."
"hidup gw drama bgt ya, gw harus bayar cewek buat muasin gw" (emaap yang ini, but its true)
"Gak peduli aku bikin apa, targetku bulan ini harus nerima 40 juta.."
"Yang penting gw mikirin anak gw, istri gw udah bisa mikirin dirinya sendiri."
"Emang lo yakin gak bakal nikah sama gw?"
"Hidup Jomblo"
"Aku pengen investasi, terus nerusin sekolah, klo kerja nanti dulu deh."
Karokean sampe nangis...
Banyak cerita, potongan hidup yang tidak mudah untuk kita bagi dengan orang lain. Beberapa orang punya cara berbeda untuk berbagi cerita, jujur mengenai dirinya, bahkan merasa relax.Bagian ini mungkin tidak terjadi pada setiap orang, tapi sebagai pengamat dan pendengar, i appreciate it. Mari angkat skali lagi gelas mu kawan!!!!
Cheers,
ntasnta
1. http://llpayroll.com/wp-content/uploads/2012/11/beer-glass.jpg
Kamis, 22 November 2012
#selfnote
Passion is not what you're really good at, but what you enjoy the most- your job is not your career
Senin, 19 November 2012
Jadi Jagoan Ala Ahok : A Review
Walaupun ini udah basi dan lewat
udah lama banget, tapi gw ngerasa kalo ini adalah hutang yang harus gw posting
dan selesaikan...udah lama banget ada di draft blog gw...mari dibaca :
Jadi Jagoan Ala Ahok : A review
Siapa Ahok? Siapa sih yang gak
kenal Ahok sekarang atau Basuki Cahya Purnama. Pasangan dari Joko Widodo untuk
Wagub DKI ini tenarnya udah ngalahin selebritis, dari berita sampai
infotaintment nayangin kegiatan, profil, dan sepak terjang kedua pasangan DKI 1
ini. Tapi ini sekarang, dulu...siapa sih Ahok?
Buat sebagian kita nama Ahok
mungkin tidak familiar. Kemunculannya di kanca PilGub DKI merupakan pertama kali
kita mengenal sosoknya. Tentu saja kehadirannya membawa angin segar, selain isu
SARA yang muncul dibelakangnya, cara Ahok berkampanye dan memperkenalkan diri
ke masyarakat menarik perhatian banyak mata. Namun, sepasang mata telah
menemukan kehebatan Ahok bertahun-tahun lalu, saat menjadi bupati Bangka Belitung,
keberhasilan Ahok menjadi Bupati Bangka Belitung yang notabene 80% penduduknya
pemeluk agama Islam.
Chandra Tanzil, seorang yang
dikenal sebagai pribadi dengan kemauan kuat dan cerdas. Sosok yang dirindukan
bahkan setelah kepergiannya, meninggalkan sebuah catatan sejarah tentang
seorang pemimpin baru DKI. Sejujurnya saya tidak mengenal beliau secara
personal, hanya mendengar cerita dari beberapa orang, membaca profilnya, dan
melihat karyanya. Chandra Tanzil, bersama Amelia Hapsari menyutradarai Jadi
Jagoan Ala Ahok (Fight Like Ahok).
Sehari setelah terpilihnya Jokowi
dan Ahok menjadi pemimpin baru DKI, film dokumenter dengan durasi 39 Menit ini
diputar di Goethe House. Sebuah film
perjalanan seorang pemuda tioghoa yang bertekad untuk memperbaiki keadaan
masyarakat sekitarnya dengan menjadi pemimpin di daerahnya. Ahok adalah orang
Tionghoa pertama yang menduduki kursi parlemen di Bangka Belitung. Cara Ahok
berkampanye yang berbeda dengan wakil rakyat lainnya menarik bagi Chandra
Tanzil dan Amelia Hapsari untuk diangkat sebagai sebuah film.
Film ini menceritakan bagaimana
cara Ahok berhasil memenangkan kursi parlemen dengan membaginya dalam 7 jurus
ala Ahok. Tentu saja, film yang
diproduksi tahun 2009 ini, dan baru dapat diselesaikan tahun 2012 ini, menjadi
sebuah catatan sejarah. Dengan packaging dokumenter yang tidak biasa, dengan
menghadirkan grafis ala komik, didukung dengan cara bertutur yang luwes,
menjadikan film ini tidak hanya menginspirasi tapi juga menghibur.
Di saat yang sama hari pemutaran
perdana Jadi Jagoan Ala Ahok juga merupakan peringatan kepergian Almarhum
Chandra Tanzil. Sahabat dan orang terdekat beliau datang, mengapresiasi karya
terakhirnya, memberikan untaian kenangan, dan doa. Jadi jagoan ala Ahok sebuah
sumbangan sejarah bagi film dokumenter tanah air.
Semoga Almarhum mendapat tempat
terbaik di sisiNya.
Kamis, 08 November 2012
Jangan Ge Er
Pernah gak sih kamu ngerasa orang yang paling, apalah paling perduli, paling kece, paling menderita atau paling sengsara. GeEr atau GR (Gede Rasa), klo menurut saya sih sugesti, perasaan aja, tapi belum tentu benar. Buat saya ngerasa GeEr itu memang bagian menjadi manusia, walaupun dalam menurut saya sih GeEr sama congkak bedanya tipis banget. Mungkin untuk sesuatu yang hebat orang GeEr bisa diartikan congkak juga. Contohnya nih di lift suatu mall paling hip di jakarta selatan, " Duh kenapa ya gw ngerasa cuma yang tahu perkembangan mode di ........" entahlah setelah itu saya gak begitu merhatiin lagi. Tapi dengan nada mengeluh dia ngerasa bahwa cuma dia aja yang ngerasa kece. Hahaha...saya juga ngerasa koq saya suudzon banget sama si mbaknya, berarti selain dia GeEr kalo dia paling kece, saya secara tidak langsung ikut2an GeEr (mungkin gak tau juga yang dimaksud mbaknya), klo saya termasuk yang diomongin sama mbaknya.
Sebenernya ini lesson learn 2 bulan belakangan ini. Saya banyak bertemu orang baru, mengikuti kisah sedih mereka, mendengarkan keluh kesah mereka, yang entahlah menghilangkan rasa GeEr saya. Dua bulan lalu ketika saya divonis punya tumor di payudara kanan saya, rasanya GeEr aja. Duh koq saya naas banget ya, punya penyakit beginian. Masih GeEr ngerasa paling sengsara, sebulan kemudian ketika divonis kanker payudara, saya mulai lebih ngerasa GeEr. Kenapa harus saya yang kena? Bukannya awam soal breast cancer, saya paham sangat paham, beberapa orang sodara saya juga pernah dan sedang mengalami kanker payudara.
Saya banyak merenung, menangis dan menyesal. Suatu hari saya ikut sebuah talkshow breast cancer awareness. Saya bertemu banyak cancer survivor, mereka bertahan dan berdamai dengan penyakit mereka. Mbak-mbak cantik, flawless, gak keliatan klo mereka sedang menderita. Ketika saya ke seorang dokter bertemu beberapa pasien yang bercerita tentang perjuangan mereka berobat, melawan kanker payudara. Berpindah lagi ketika saya berobat di Bali, bertemu dengan seorang Mbak dari Jakarta yang sudah diangkat kedua payudaranya, mengalami 35 kali kemo terapi, 25 kali radiasi. Tetap cantik, tetap semangat hidup. survive.
Kejadian-kejadian itu jadi self note buat saya sendiri, sesulit apapun, sesakit apapun, saya tidak pernah sendirian. Gak perlu GeEr merasa paling menderita, paling sakit. Setiap hal selalu ada hal baik, walaupun disampaikan dengan cara yang menyakitkan. Saya tidak pernah sendirian, ada keluarga, pasangan, teman2 dan para cancer survivor lainnya yang mendukung saya, menemani saya untuk gak ngerasa GeEr. Yang pasti selalu ada jalan keluar, selalu ada cara sembuh. Jangan GeEr, masih banyak orang di luar sana yang lebih, dalam konotasi apapun.
Buat saya, saat ini benar2 untuk memperbaiki diri. Menjadi pribadi baru, yang gak usah GeEr. Klo kata Bos saya sih "Biasa Aja Kali" karena kita paling susah merasa biasa aja. So mari berusaha untuk biasa saja dalam bersikap, tentu saja untuk hasil yang gak biasa donk.
Cheers,
Shinta
Sebenernya ini lesson learn 2 bulan belakangan ini. Saya banyak bertemu orang baru, mengikuti kisah sedih mereka, mendengarkan keluh kesah mereka, yang entahlah menghilangkan rasa GeEr saya. Dua bulan lalu ketika saya divonis punya tumor di payudara kanan saya, rasanya GeEr aja. Duh koq saya naas banget ya, punya penyakit beginian. Masih GeEr ngerasa paling sengsara, sebulan kemudian ketika divonis kanker payudara, saya mulai lebih ngerasa GeEr. Kenapa harus saya yang kena? Bukannya awam soal breast cancer, saya paham sangat paham, beberapa orang sodara saya juga pernah dan sedang mengalami kanker payudara.
Saya banyak merenung, menangis dan menyesal. Suatu hari saya ikut sebuah talkshow breast cancer awareness. Saya bertemu banyak cancer survivor, mereka bertahan dan berdamai dengan penyakit mereka. Mbak-mbak cantik, flawless, gak keliatan klo mereka sedang menderita. Ketika saya ke seorang dokter bertemu beberapa pasien yang bercerita tentang perjuangan mereka berobat, melawan kanker payudara. Berpindah lagi ketika saya berobat di Bali, bertemu dengan seorang Mbak dari Jakarta yang sudah diangkat kedua payudaranya, mengalami 35 kali kemo terapi, 25 kali radiasi. Tetap cantik, tetap semangat hidup. survive.
Kejadian-kejadian itu jadi self note buat saya sendiri, sesulit apapun, sesakit apapun, saya tidak pernah sendirian. Gak perlu GeEr merasa paling menderita, paling sakit. Setiap hal selalu ada hal baik, walaupun disampaikan dengan cara yang menyakitkan. Saya tidak pernah sendirian, ada keluarga, pasangan, teman2 dan para cancer survivor lainnya yang mendukung saya, menemani saya untuk gak ngerasa GeEr. Yang pasti selalu ada jalan keluar, selalu ada cara sembuh. Jangan GeEr, masih banyak orang di luar sana yang lebih, dalam konotasi apapun.
Buat saya, saat ini benar2 untuk memperbaiki diri. Menjadi pribadi baru, yang gak usah GeEr. Klo kata Bos saya sih "Biasa Aja Kali" karena kita paling susah merasa biasa aja. So mari berusaha untuk biasa saja dalam bersikap, tentu saja untuk hasil yang gak biasa donk.
Cheers,
Shinta
Langganan:
Postingan (Atom)
